Jumat, 21 Agustus 2015

NAFSU BIRAHI CITRA : DIENTOT TETANGGA DAN DISODOMI TUKANG SATE


jospoker.com


Semenjak persetubuhan pertama Citra dan Seto di bioskop beberapa malam kemarin, hari-hari Citra seolah mendadak dipenuhi oleh sosok suami Anissa itu. Pagi, siang malam, Citra tak henti-hentinya selalu tersenyum bahagia.TIIT...TIIITTT... TIIT...TIIITTT...Suara dering SMS memecah sunyinya pagi.
"Hehehe..... Mbak liat nggak muka bapak yang sedang liat tetek besarmu kemaren, khan dijewer ama istrinya." Sms Seto.
"Masa sih..?
"Iya Mbak, trus cowo sipit yang photo-photoin kamu juga gitu, matanya kaya mau copot pas liat kamu teler... Ga brenti-brenti selfie..."
"Iya ya..? Kok aku nggak tahu..."
"Gimana bisa tahu kalo kamu sedang merem-melek abis ngecrit keenakan gitu.hehehehe..."
"Huuuu.... Khan ngecritnya juga gara-gara kamu Set... Hihihihi..."
"Enak nggak ngentot ama aku...?"
"Nggak enak... "
"Loh kok....? Padahal Anissa selalu minta nambah loh..."
"Iya bener, enggak enak.... Enggak enak kalo ngentotnya cuman sekali.... Hihihiihi...."

"Kok kamu ketawa-tawa sendiri dek...?" Tanya Marwan melihat istrinya kegelian sambil menatap layar handphonenya.
"Eh mas... Ini loh... Aku sedang bercanda dengan Minda... " Bohong Citra yang sebenarnya sedang berSMS ria dengan Seto.
"Minda temen kantor kamu....?"
"Ho'oh..."

"Hahahaha... Dasar istri binal... Harus dikasih pelajaran...." Sambung Seto
"Pelajaran...? Emangnya aku anak sekolahan...?"
"Iya... Kamu murid nakal yang harus dikasih banyak hukuman..."
"Hukuman apa...?" Tanya Citra
"Disodok-sodok ama kontol... Hehehehe..."
"Uuuuhh... Maaau dooonk... Pasti enak banget tuh..."
"Beneran nih...? Emang kapan bisanya lagi Mbak...?"
"Hmmm... Sekarang juga boleh... Yuk... Mumpung aku masih belom pake baju...."
"Hahahaha. Gila... Masih ada Mas Marwan kali mbak..."
"Nggak apa-apa, khan bisa main threesome..." Tantang Citra
"Bener yaaaa... Aku kesana sekarang nih..." Balas Seto lagi

"Seru amat SMSannya dek...?" Sindir Marwan yang masih terus memperhatikan istrinya, "Aku sampe nggak dibantuin..."

BRUK BRUK BRUK
Bunyi baju Marwan yang ditumpuk sekenanya didalam koper, sama sekali tak beraturan. Berantakan. Sengaja, Marwan berusaha membuat citra mengalihkan perhatiannya dari gadget yang ada ditangannya. Namun sia-sia, Citra masih saja berchit-chat seru dengan handphonenya

"Iya nih mas... Si Minda lagi kasmaran nih.."
"Kasmaran...? Bukannya dia sudah bersuami..? Dan suaminya juga sedang berlayar khan..?"
"Iya ... Minda sedang naksir tetangganya... Lucu banget deh mas.. Hihihihi...."
"Naksir tetangga.? Kaya kamu naksir Seto gitu..?"

Mendengar sindiran Marwan Citra buru-buru menghentikan chattingnya.

"Ehh.. Ka. Kamu jadi pergi lagi mas...?" Tanya Citra yang buru-buru membantu suaminya packing. Merapikan bajunya supaya muat kedalam koper.
"Iya Dek... Sepertinya proyek tanah aku yang di kota perlu penanganan serius... Jadi aku harus lebih banyak jaga disana... Yaaah... Moga-moga aja tembus deh..." Jelas Marwan.
"Moga-moga tembus ya Mas.. "
"Semoga aja begitu... Jadinya mas khan bisa segera panen..."
"Panen....? Yeeeiy.. Itu artinya aku bisa belanja lagi donk mas..?" Celetuk Citra girang, " Beli perhiasan, perabotan, nambah baju, rok, tas, boleh ya mas...?"
"Iya.iya.... Boleh kok sayangnya akuuuu... Makanya doain aku terus..."

TIIT...TIIITTT... TIIT...TIIITTT...
Suara dering handhone Citra berbunyi, tapi ia mengacuhkannya.

"Pasti mas... Jadi kira-kira berapa lama kamu bakal keluar kota mas...?"
"Yaaaahh... Mungkin semingguan dek... Emangnya kenapa...?"

TIIT...TIIITTT... TIIT...TIIITTT...

"Nggak kenapa-napa mas... Cuman, kalo kamu lama dikota, khan aku jadi kesepian..."
"Kamu ajak aja si Anissa buat nginep bareng dek.... "
"Beneran mas..?"
"Iya... Khan sudah biasa kamu ajak Anissa nginep... Asal kamu nggak ngajak suaminya Anissa buat nginep aja..."
"Ih kamu mas... Ada-ada aja.... Hihihihi...." Geli Citra sambil terus membantu Marwan mengemasi pakaiannya, "Kamu belom tahu aja mas, kalau istri tercintamu ini malah sudah merasakan kenikmatan bersetubuh dengan Seto....Hihihi... " Batin Citra.

TIIT...TIIITTT... TIIT...TIIITTT...

"Ya sudah, kamu beresin semua baju aku ya Dek... Aku mau mandi dulu..." Ucap Marwan sambil berlalu meninggalkan Citra sendiri di dalam kamar.

TIIT...TIIITTT... TIIT...TIIITTT...
Suara dering SMS handhone Citra terus-terusan berbunyi. Berhubung marwan sedang ke kamar mandi, ia buru-buru mengambil handphonenya dan membaca semua pesan yang masuk.

"Cantik..."
"Sayang..."
"Semok..."
"Memek pereeeettt..."
"Tetek bruuutaaaalll.."
"Istri binaaalll..."

Membaca berbagai macam sebutan cinta Seto untuknya, Citra hanya bisa tersenyum.
"Iyaaaaa kontol peyooootttt.... Sabar napa... Tadi aku sedang ngobrol ama Mas Marwan..."
"Hehehe.. Gimana.? Jadi ngentot bertiga nggak...?"
"Hmmm.... Jadi nggak yaaa...?"
"Udah.. Jadi aja ya.... Aku sudah didepan nih... Gapapa deh, parohan badan ama suami kamu, yang penting aku dapet nyodok-nyodok kontolku ke memek kamu mbak... hehehe..."
"Hihihihi... Otak mesum.... Udah ah... Kita berangkat kantor aja dulu... Urusan nyodokin memek akunya, ntar malem aja..."

Buru-buru, istri marwan segera berpakaian lalu berjalan kebelakang, pamit kepada suaminya.
"Mas... Aku jalan dulu yaaa...." Teriak Citra dari luar pintu kamar mandi.
"Udah mau jalan Dek...?" Jawab Marwan.
"Iya mas... Si Seto ngajakin berangkat bareng lagi..."
"Looohh.. Kok sama Seto... "
"Gapapa ya maaaasss...? Khan cuman nganterin doang...."
"Memangnya Pak Utet kemana sih...? Udah hampir seminggu ini dia ga pernah muncul...?"
"Pak Utet...? Hmmm Pak Utet sudah nggak bisa jemput aku lagi mas.... Dia sekarang tiap pagi harus nganter bininya belanja kepasar..." Bohong Citra.

***

Tragedi sabtu kelabu. Begitulah Citra menyebutnya. Saat dimana perselingkuhannya dengan Pak Utet diketahui oleh Pak Darjo, si pemilik kontrakan. Dan semenjak saat itu, Pak Utet menjadi jarang bermain ke rumah Citra.

"Nggak boleh ketemu kamu dirumah khan bukan berarti nggak kita nggak bisa jalan lagi Neng. Bapak masih bisa melayani nafsu birahimu dikantor..." Ucap Pak Utet sembari menurunkan resleting celananya. Lalu mengeluarkan penis besarnyanya. Menyajikan kepada Citra yang sedang duduk di meja kerjanya.

Tak perlu waktu lama, penis Pak Utet langsung menjulang tinggi. Menegang keras, disertai kedutan-kedutan birahinya. Seperti hari-hari sebelumnya yang sepi, siang itu Pak Utet kembali mengajak istri Marwan itu untuk memuaskan birahinya.

"Yuk Neng.... Aku sudah siap nih...." Kata Pak Utet santai sambil menepuk-nepuk dan menggoser-goserkan batang penisnya yang sudah mengeras itu di lengan Citra. Sengaja memepperkan cairan birahinya ke kulit mulus wanita yan ada disampingnya, "Kita tuntasin persetubuhan kita yang tertunda kemaren..." Ucap Pak Utet sambil mulai meremasi payudara Citra dari luar blousenya.

"Nggak pak... Sepertinya kita jangan terusin hubungan ini lagi.. Aku takut..." Tolak Citra.
"Takut apaan...? Ngentot itu enak Neng.... Sama sekali nggak nakutin... Hakhakhak..." Kata Pak Utet yang mulai mengocoki penisnya perlahan.
"Nggak pak."
"Kok enggak sih neng....? Kenapa...?"
"Aku takut kita ketahuan orang lain lagi Pak... "
"Ketahuan ama siapa....? Wong kantor ini sekarang sepi..." Kata Pak Utet sembari terus mengocok penisnya, "Ayolah Neng... Nih lihat kontol bapak.... Sudah siap nyodok-nyodokin memek kamu..."

Citra menggeleng. Berusaha tak melihat penis besar milik lelaki tua itu. Dirinya tahu, jika sekali saja ia menatap penis besar Pak utet, nafsu birahinya bisa langsung meledak-ledak.

"Beneran Pak... Aku takut..." Kata Citra.
"Takut apaan sih Neng...? Bapak nggak ngerti...?" Tanya Pak Utet bingung.
"Inget nggak pak, ketika kemaren bapak maen kerumah.... Kita ngentot... Trus ketahuan ama Pak Darjo...?"

Pak Utet terdiam. Menyimak setiap perkataan Citra.

"Dia mengancam akan memberitahukan hubungan kita dengan Mas Marwan...."
"Trus... Si Gendut itu lapor suamimu nggak...?"

Citra menggeleng.

"Hakhakhak....Yaudah... Itu tandanya kamu nggak perlu takut Neng.."
"Tapi khan demi supaya Pak Darjo nggak laporin hubungan kita ke Mas Marwan, aku harus mau menjadi...."
"Iya bapak tahu...." Potong Pak Utet singkat. "Kamu harus jadi madunya khan...?"

Wanita cantik itu mengangguk.

"Ya nggak apa-apa kali Neng.... Toh dengan jadi madunya, kamu jadi nggak perlu bingung dengan uang kontrakan.... Udah ada yang nanggung...."

Pemikiran Pak Utet persis seperti apa yang Citra pikirkan kala itu.

"Lagian... Kalo dari yang bapak lihat dari kejadian kemaren, kayaknya kamu benar-benar menikmati jadi madu lelaki gendut itu..."

Citra diam. Wajahnya memerah. Malu. Buru-buru, ia membereskan piring makan siangnya dan beranjak pergi. "Bener juga... Walau jadi madu...Paling tidak, aku tak perlu kebingungan lagi jika Pak Darjo menagih uang kontrakan..." batin Citra sambil berjalan menjauh, meninggalkan Pak Utet yang sedang asyik-asyiknya mengocok batang penisnya dibelakang.

"Loh Neng... Ini gimana...?" Tanya Pak Utet kebingungan.
"Lain kali aja deh pak... " Tolak Citra halus, "Aku sedang nggak mood... "


***

TIIT...TIIITTT... TIIT...TIIITTT...
Suara dering SMS mengagetkan lamunan Citra.

"Memek Perawan... Kamu dimana..?" Pesan Seto lagi.
"Bentaaaarrr...Aku ijin suamiku dulu...."

"Maaaassss... Aku udah kesiangan nih... Aku boleh ya berangkat bareng Seto...?"

CKLEK
Marwan membuka pintu kamar mandinya, sekedar mengecek istrinya.

"Hmmm... Emang ya kamu harus berangkat ama dia...?" Tanya Marwan.
"Lalu...? Aku harus berangkat sama siapa mas...? Pak Utet...? Dia nggak bisa maaaasss.." Balas Citra Sewot, "...Ama kamu....? Kaya kamu bisa aja...."
"Khan masih ada angkot Deekk..."
"Yah mas... Udah siang inih... Kalo mau pake angkot, bisa makin telat aku masuk kantornya..."

Melihat kebawelan istrinya mulai muncul, Marwan buru-buru menyudahi perdebatan mereka. "Yauda deh... Terserah kamu aja...." Ijin Marwan.
"Naaahh.... Gitu doooong....Makasih suamiku sayaaanngg.... Hihihi..." Pamit Citra sambil buru-buru jongkok didepan tubuh telanjang suaminya, lalu mengecup dan menyelomoti penis Marwan yang menggantung manja itu dengan santai.
"Uuuuhhh.... Deeekk..." Desah Marwan keenakan. Merasakan jilatan dan sedotan bibir istrinya, penis basah Marwan yang semula tidur, seketika itu bangun. Tegang, mengeras.

Sengaja, Citra memberikan jamuan paginya sebelum suaminya berangkat keluar kota. Dengan kuat, Citra mencucupi penis suaminya. Berusaha memberikan kenikmatan buat suami tercintanya. "Cuup cupp... Slurrp...Biar kerja ke kotanya semangat ya mas.... Sluuurrppp...."

"Enak banget dekkk..." Desah Marwan sambil mulai memaju mundurkan pinggulnya, mencoba menyetubuhi mulut dan kerongkongan Citra yang menjepit batang kelaminnya lekat-lekat. "Hoooohhhsss.... Mulut kamu berasa kaya memek deeeek.. Enak baaaanggeeetttt...."
"Enyootin haja maaaahhss..." Ucap Citra dengan mulut penuh batang penis Marwan. "Pejuhin istlimu inyih....

"Aku mau keluar dek..." Erang Marwan kuat sambil memegang belakang kepala Citra. Dengan gerakan brutal ia menyodokkan batang penisnya dalam-dalam ke mulut Citra, seolah mulut itu adalah vagina istrinya.
"Ooooohhhh.... Aku nggak tahan lagi dek...Aku keluaaaaarrrr..."

CRET CREEET CREECEET

Penis Marwan meledak dengan nikmat, enam semburan hangat menyerbu kerongkongan Citra, menghantarkan jutaan benih kejantanannya masuk kedalam perut istrinya

"Banyak banget mas pejuhmu..." Ucap Citra genit sambil terus menjilati batang penis suaminya hingga bersih.
"Hooohhmm... Kamu binal banget sekarang dek.."
"Hehehe... Siapa dulu dong suaminya....?" Ucap Citra manja sambil mencium tangan Marwan. "Dah yaaa mas.. Aku berangkat kerja ama Seto dulu....."

“Kok Nasi gorengnya nggak dimakan Mbak…? Aku habisin yaa…Mubazir loh… Hehehe…”

Sambil tersenyum, Citra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Seto. Lelaki yang akhir-akhir ini begitu menyita waktu dan ruang di hatinya. Suami Anissa itu terlihat begitu lucu, menyenangkan dan enak diajak menghabiskan waktu.

Jarum jam di pergelangan tangan Citra sudah menunjukkan pukul 21.30, itu artinya malam sudah semakin larut. Mendadak, senyum diwajahnya menghilang, tergantikan dengan kerutan tipis didahinya.

Citra sadar jika sebentar lagi, mereka harus mengakhiri pertemuan ini. Pertemuan sepulang kerja yang setidaknya sudah berjalan sekitar dua minggu. Pertemuan sayang sepasang lelaki dan perempuan yang masing-masing dari mereka sudah memiliki keluarga.

Sekilas, Citra melirik layar di handphonenya. Sama sekali tak ada kabar dari Marwan, yang ada justru SMS mesum dari Pak Darjo, si pemilik rumah kontrakan.
“Hallooo Mbak Citra cantik…. Sedang apa …?”
“Mbak Citra, kebetulan aku lewat depan rumahmu… Aku mampir yaaa…?”
“Mbak… Rumahnya kok kosong…? Kata ibu sebelah, suamimu sedang keluar kota ya…? Padahal aku sedang ada perlu ama Mas Marwan…”
“Mbak Cantik… kok SMSku nggak dibales….?”
“Mbak Sayang… Berhubung suamimu nggak dirumah, ntar malem aku temenin yaaa.. Pasti kamu kesepian…”
“Mbaaaakkkk….Kamu pulang jam berapa…?”

Walau Pak Darjo berulang kali mengirimkan SMS, Citra sama sekali tak menghiraukannya. Pikirannya kalut.

“Sialan…Tahu jika dirumah tak ada Mas Marwan…. Pak Darjo pasti ingin meminta jatah tutup mulutnya…” Batin Citra. “Lelaki gendut itu pasti ingin meniduriku…” Mendadak ada sebuah ketakutan dihati Citra. .

“Kenapa mbak….? Kok mukanya pucet gitu…?” Tanya Seto lirih.
“Eee… Nggak ada apa-apa kok Set….” Jawab Citra sambil buru-buru mematikan handphonenya lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Bener nggak ada apa-apa…?”

Diam, Citra menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku malas pulang Set…” Kata Citra pelan.
“Loh kok….? Ntar dicariin suamimu loh…”

Citra diam lagi, menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan.

“Mas Marwan malam ini nggak pulang….” Jelas Citra, “ Malam besok juga… Dan malam besoknya lagi.. Malam besoknya lagi… Dia kira-kira semingguan dikota….”
“Oooowww…” Ucap Seto sambil menenggak es teh disampingnya, “GLEG GLEG GLEG…”

“Set...”
“Iya mbak..”
“Kalo kita nggak usah pulang gimana?” Tanya Citra, “ Kamu mau nemenin aku nggak...?”
“Maksud Mbak nginep...?” Tanya Seto balik.

Citra tak menjawab, hanya mengangguk pelan. Berharap Seto menyetujui idenya.

“Beneran kamu mau nginep…?”“

Lagi- lagi Citra menganggukkan kepalanya.

“Hmmm... Aku sih bisa saja mbak... Kebetulan Anissa juga masih mudik kekampungnya… Jadi aku bebas malam ini...”
“Waahhh... Cocok donk....” Ucap Citra, “Jadi bisa dong kamu nemeni aku…?”
“Hehehe… Buat bidadari kaya kamu mah… Apa sih yang nggak…?”
“Hihihi… Gombal….” Canda Citra, “ Tapi....Tapi.... Aku nggak tahu harus nginep dimana Set... Aku khan belum pernah minggat....”


“Hehehe... Tenang saja mbak... Kalo urusan nginep, serahkan saja padaku mbak... Aku kenal banyak manager hotel....”
“Hihihihi... Iya percaya.... Secara cowok playboy kaya kamu nggak mungkin nggak punya banyak kenalan orang hotel..” Celetuk Citra.
“Hahahaha.... Ketahuan deh....”
“Dasar cabul... Tapi Set... Aku nggak mau kalo kita nginep dihotel... Aku takut... Akhir-akhir ini khan banyak penggerebekan....”
“ Trus gimana mbak...?” Tanya Seto bingung.
“Aku juga nggak ngerti.... Terserah kamu ajalah Set... Aku mah nurut saja...”
“ Hmmmm.... “

Sejenak, Seto terdiam. Matanya berputar-putar menatap plafon. Berusaha mengingat-ingat tempat yang paling pas untuk mereka singgahi malam ini.

“Tapi Set… Kalo kamu nggak punya kenalan tempat, gapapadeh... Kita pulang aja...” ucap Citra dengan nada sedikit putus asa.
“Ada sih Mbak…. Cuman lokasinya agak jauh...”
“Nggak apa-apa Set… Yang penting malam ini aku pengen seneng-seneng dulu… Hihihi…”
“Kamu kenapa sih mbak…? Kok tumben ngajak nginep-nginep gini…?”
“Hihihi… Aku lagi males pulang aja sih, sepi dirumah sendirian… Lagian, khan aku pengen makin deket ama kamu Setooo….” Goda Citra.
“Hahahahaha… Dasar Mbakku yang geniitt… Pinter banget dah ah ngegombalnya…”
“Yowes yuukkk… ”


Dengan hanya berbekal baju yang melekat ditubuhnya, mereka berdua nekat memutuskan untuk menghabiskan malam itu bersama. Dengan motor bebeknya Seto langsung memutar gas, mengajak istri Marwan itu melesat jauh menembus gelapnya malam. Sambil memeluk tubuh Seto kencang-kencang, Citra menempelkan payudaranya. Sengaja guna membuat kehangatan diantara mereka berdua semakin erat .

“Tempatnya masih jauh Set...?” Tanya Citra tak sabaran, “Udah mulai gerimis nih…”
“Sebentar lagi kok mbak....” Ucap Seto yang terus menerus menggeber motor bebeknya, naik ke jalanan pegunungan yang berliku-liku, “Beberapa tanjakan lagi kita bisa sampai di tujuan…”

Dan benar saja, setelah melewati beberapa tikungan dan tanjakan, akhirnya mereka berdua tiba di tujuan. Sebuah rumah mungil dua lantai yang berada di lereng bukit. Lantai dasar digunakan sebagai tempat rumah makan, dan lantai atasnya digunakan sebagai tempat tinggal.

“Kita udah sampai mbak… Yuk masuk…“ Kata Seto sambil mengamit tangan Citra, “Sebelum gerimisnya makin deras…”

“Hoi Woto...” Teriak Seto memanggil seorang lelaki kurus berambut gondrong, yang sedang mengipasi puluhan sate yang ada dihadapannya.
“Hoooiii Setooo....”. Balas lelaki itu. Buru-buru, ia mempercepat kipasan tangannya, “Masuk aja dulu... Aku masih melayani pembeli....” Ucapnya ramah sambil mempersilakan Citra dan Seto masuk ke dalam rumahnya.

Seolah menyambut kedatangan mereka, kebulan asap putih langsung mengepul pekat dari tempat pemanggangan, disertai oleh aroma harum kecap manis dan daging yang terbakar. Sedap. Cuaca dingin hawa pegunungan, ditambah beberapa tusuk sate hangat, memang selalu mampu menggugah selera siapa saja yang menciumnya. Tak heran, di malam yang semakin larut ini, masih banyak saja orang yang mengantri di rumah makan itu.

Begitu ia selesai, Seto buru-buru memperkenalkan Citra kepada Woto,” Woto.. kenalin.. Ini mbak Citra, saudara jauhku dari kota sebelah....”
“Citra...” sambut Citra sambil tersenyum ramah.
“Prawoto...” Jawab teman Seto itu tak kalah ramahnya, “Tumben nih sodara jauh maen sampe kesini-sini… Ada angin apa Set…?”
“Gini Wot… Ceritanya… Mbak Citra ini pengen maen kekotaku… Naaah… Berhubung perjalanan ke kota masih cukup jauh, dan diluar hujan mulai turun, aku pinjem kamarmu buat bermalam yak…”
“Owalaaaaaahhh… Iya iya… Sok aja sanah…
“Hehehehe... Berhubung kalian sudah saling kenal, aku tinggal naek keatas dulu ya... Mau nyiapin kamar tidur buatmu mbak...”

Sambil terus bersalaman, Prawoto tak henti-hentinya tersenyum kearah Citra.
“Kenapa mas...?” tanya Citra yang merasa risih dengan tatapan mata Prawoto.

“Eh... Anu... Enggak ada apa-apa kok mbak... Aku nggak pernah mengira aja kalo si Seto punya saudara secantik mbak... “ Jawab Prawoto, “Mbak apanya Seto…? Kok aku nggak pernah dikenalin yaa…?” Tanyanya lagi sambil terus menggenggam tangan mulus Citra.
“Anu… Aku Sodara dari kakek buyutnya Seto…” Jawab Citra berusaha berimprovisasi.
“Pantesan… Beda banget ama anak setan satu itu…” Canda Prawoto
“Beda ya… Hihihi… “
“Iya. Jauh banget bedanya…. Yang sono busuk, yang ini cantik banget….Mana semookkk pula… hahahaha…” Puji lelaki kurus itu sambil melirik kearah payudara Citra.

“Hoi hoi hoi...Sudah ah rayu merayunya... Ntar malah lo jadi lengket ama mbakku...”
“Emang aku prangko... Bukan khan Mbak...? Hehehehe...” Canda Prawoto garing sambil melepas jabatan genggaman tangannya.
“Mbaaak... Ayo Siniii.... “ Ajak Seto dari ujung anak tangga.
“Permisi dulu ya Tooo....” Kata Citra sopan, “Aku mau keatas dulu...”

Dengan langkah ringan, Citra segera menaiki tangga vertikal itu dengan santai, meninggalkan Prawoto yang di belakang. Prawoto yang masih terlena karena keseksian saudara Seto itu, hanya bisa menatap iri kearah pantat Citra yang bergerak naik turun seiring langkah kakinya ketika menaiki anak tangga.

“Bulet bener tuh pantat...” Batin Prawoto, “Beruntung banget tuh monyet...”

“Bang...Hoi bang… Pesen sate kambingnya bang.... 30 tusuk...” Ujar seorang lelaki tua, membuyarkan lamunannya.
“Eh iya pak.. Tunggu sebentar...” Jawab Prawoto sambil bergegas melayani pesanan lelaki tua itu.

***


“Romantis banget Set...” jawab Citra singkat setelah mengetahui keindahan pemandangan dari atas balkon. “Bener kata kamu…Romantis…”

Karena balkon rumah Prawoto berada diatas jurang yang menghadap kota,membuat kerlap-kerlip lampu kota dibawahnya terlihat bak bintang-bintang yang gemerlapan. Ditambah derasnya curahan hujan dari langit, membuat suasana menjadi dingi-dingin sejuk. Sambil terus berpegangan pada pagar kayu, Citra benar-benar mencoba menikmati pemandangan dari atas balkon rumah Prawoto.
“Bagus khan mbak..?” Tanya Seto mendekat. Dipeluknya tubuh Citra dari belakang, sambil menciumi tengkuk leher Citra.
Citrapun otomatis merinding. Segera saja ia membalikkan badan lalu Citra mencium bibir Seto, melumatnya habis tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Dalam sekejap, kedua insan yang sedang dilanda nafsu birahi itupun segera larut dalam percintaannya. Saling cium, saling hisap, dan saling gigit. Ditengah hujan yang semakin deras, mereka seolah tak peduli dengan hembusan-hembusan air yang menerpa tubuh. Membuat keduanya menjadi basah.

“Aku sayang kamu mbak…” ucap Seto ditengah-tengah jilatan lidahnya kedalam mulut Citra.
“Ehh… Aku juga Set…” Jawab Citra singkat.

Dengan menggendong Citra, Seto mengajak masuk Citra menuju kamar tidur yang baru saja ia siapkan. . Lantai kayunya berderik setiap kali mereka berjalan. Lalu tanpa menunggu waktu lama, mereka berdua pun segera melucuti pakaiannya masing-masing. Hingga tak sehelai benangpun yang menempel di tubuh mereka. Bugil.

Sejenak, mereka berdua saling bertatapan. Saling mengagumi keindahan tubuh lawan jenisnya.
“Akhirnya Mbak …. Aku bisa melihat dengan jelas…Tetekmu yang mempesona itu…” Bisik Seto.
“Nikmatin aja Set… malam ini aku milikmu…”

Segera saja, Seto merebahkan tubuh ramping Citra itu keatas kasur tipis yang ada di sudut kamar. Lalu ia kembali merangsek kebagian bawah tubuh Citra, menjilati vagina basahnya dengan buas sembari tak henti-hentinya meremas payudara wanita cantik itu. Sesekali jari-jari kasar Seto menyentil-sentil puting payudara Citra yang sudah mengeras hingga Citra melenguh-lenguh keenakan .
“Ssssh…. Enak banget Seeettt….” Desah Citra

Berulangkali, Seto menyelipkan lidah basahnya ke vagina Citra, bergantian dengan jemarinya. Ia mengorek semua cairan birahi vagina gundul itu keluar dari celah kenikmatannya, lalu menyeruputnya dalam-dalam hingga habis.

“Ooohhh... Set.... Aku udah nggak tahan...” Desah Citra keenakan, “Ayo cepet.. Masukan kontolmu sayang...”
“Udah siap Mbak ...?”

Tanpa menjawab, Citra hanya melebarkan pahanya, membentangkannya sejauh mungkin. Memamerkan celah sempit yang berwarna merah muda.

Dari posisinya tiduran, Citra dapat melihat Seto yang sedang jongkok diantara selangkangannya. Penis raksasanya terlihat begitu jelas, berdiri tegang dengan gagahnya, siap menjebol semua pertahanan vagina sempitnya.

“Ayo Set... Puaskan aku... “ Pinta Citra manja.

Melihat Seto yang masih terpana karena menikmati keindahan tubuh indah yang ada di depan selangkangannya, Citra pun segera berinisiatif. Ia segera menangkap batang penis Seto. Dan begitu ia menggenggamnya, tangannya gemetar. Seketika itu, Citra sadar jika batang penis lelaki yang siap menjebol gerbang vaginanya itu begitu besar.

Namun, walaupun ia bakal merasakan sakit, ia menginginkan penis seto untuk masuk kedalam tubuhnya lagi. perlahan, ia mulai meremas daging gemuk itu sembari mengocoknya perlahan.
“Kontol ini pasti akan berasa begitu enak ketika sudah masuk kedalam vaginaku…” Ucap Citra lirih sambil menatap mata Seto dalam-dalam. “Ayo sayang….Majukan pinggulmu, kontolin aku ….”


Mendengar ucapan Citra itu. Seto lalu mendorong sekeras yang dia bisa. Mendorong masuk batang penisnya dalam-dalam, memasuki tubuh Citra. Karena kerasnya hentakan pinggul Seto, Citra harus menggigit bibir bawahnya saat batang besar milik suami Anissa itu merangsek masuk ke dalam tubuhnya dengan cepat dan kasar.

CLEP...
Kepala penis Seto menyeruak masuk.

“Oooooouhhh...” Rasa pedih itu itu langsung kembali. Tepat ketika baru kepala penis Seto mulai menyeruak masuk kedalam lubang kenikmatannya, “Tahan Set... Biarkan memekku beradaptasi dulu...”

CLEP...
Dorong Seto lagi dengan keras dan tajam.

Merasakan kuatnya tekanan batang penis selingkuhannya, Citra ingin teriak sekeras mungkin karena rasa sakit dan nikmat yang ia rasakan secara bersamaan. Bibir vaginanya terisi dan terkuak begitu lebar dengan sangat cepat.

“Penuh sekali saying….” Erang Citra.

Walaupun vagina Citra beberapa waktu lalu baru saja disodok-sodok oleh penis besar Seto, tetap saja, penis Seto itu masih terasa begitu menyiksa. Karena besarnya hampir sebesar botol minuman air mineral, begitu tebal dan panjang.

“Oh… Sakit Seeet... tapi enak sekaliiii...” jerit Citra. Sambil terus menahan sakit. Wanita cantik itu berusaha merasakan kenikmatan bercinta dengan pria berpenis besar itu.
“Rasanya benar-benar berbeda...” ucap Citra dalam hati, wanita cantik itu merasakan jika seluruh lorong dan dinding vaginanya begitu penuh.

“Bentar Set... Jangan digerakkin dulu ya... “ucap Citra sambil mengatur nafasnya. Dan begitu ia telah merasa siap, “Ayo sayang... Gerakin pelan-pelan...”

Dengan posisi misionaris, Citra kembali melakukan persetubuhan telarangnya dengan suami tetangganya itu.

“Uuuuhhh... Sesak sekali memek aku....” desah Citra sambil meremasi sprei, menahan rasa sakit, “Tapi enaaakkk....”

Besarnya penis Seto membuat vagina Citra seperti vagina anak kecil, kulit labianya terdorong masuk dan tertarik keluar setiap kali penis Seto bergerak. Benar-benar penuh. Sambil terus mengecupi payudara Citra secara bergantian, Seto tak henti-hentinya mempercepat gerakan pinggulnya. Menyodok-nyodok setiap sudut vagina dan liang rahim istri tetangganya itu. Membuat istri Marwan itu benar-benar kelojotan karena merasakan nikmat yang amat sangat.

“Gimana mbak…? Kamu suka rasa kontolku dalam memekmu…?“ Tanya Seto sembari tangannya membelai payudara Citra.

Vagina Citra mencengkeram batang penis Seto dengan sangat kuat. “Ooooooh… Enak banget Seet…” Jerit Citra keras, seiring seiring sodokan batang penis Seto yang menyodok vaginanya keluar masuk dengan cepat.
“Enak banget Seeeeetoooohhh…. Teruuuusss… Entotin akuuuu….” Jerit Citra lagi, seolah tak memperdulikan lagi ia sedang berada dimana.

Kenikmatan yang Citra peroleh dari persetubuhan gelap itu mengoyak semua perasaannya. Seketika. tak ada lagi rasa takut, resah, atau pun malu jika ada orang yang melihatnya menggeliat-geliat keenakan menerima sodokan dan tusukan penis lelaki lain. Masa bodoh itu semua. Biar saja semua orang tahu semua kenakalannya.

Mulutnya menganga, matanya merem melek merasakan persetubuhan nikmat itu. Suara rintihan serta erangannya membahana di seluruh penjuru rumah Prawoto.

“Suka mbak…?” Geram Seto.
“Iyaaahh… Suka bangeeett…. Uh uh uhhh….” Erang Citra
“Mau terus…?” Tanya Seto.
“Teeerruuussss… Ooouughhh…. Uh uh uh…” Rintih citra.

Kenikmatan yang Citra rasakan membuat punggungnya meregang kencang, melengkung-lengkung keatas, memudahkan sodokan penis Seto dalam vaginanya yang sudah sangat kuyup. Tangannya mencengkeram sprei erat- erat menahan supaya tubuh mungilnya tak terguncang hebat oleh sodokan pinggl Seto yang penuh hasrat.

Payudara Citra yang besar terayun naik turun, terguncang begitu hebat hingga menampar-nampar dagu mungilnya. Nikmat persetubuhan yang benar-benar terasa enak. Belum pernah Citra merasakan kenikmatan bercinta yang seperti ini dalam hidupnya. Vaginanya terisi dan terentang begitu lebar di luar nalar pikirannya.

Melihat Citra yang merasakan keenakan, membuat tusukan penis Seto semakin dalam.
“Goyanganmu benar-benar erotis mbak… Kamu jago banget ngentotnya…” Ucap Seto lirih sambil menjilati mulut Citra.
“Eeehmmm…. Diam Seet…Diam dan terus entotin memekku dengan kontol besarmu… Entoott… “ Desah citra dengan ekspresi wajah yang sepenuhnya berselimutkan nafsu. “Sodok yang kenceng sayaaang… Entotin memekku keras-keras… ”

Tak henti-hentinya Citra meracau dan menjerit. Mengagumi kehebatan suami tetangganya itu dalam bercinta dan memohonnya agar tak berhenti menyetubuhinya

Mendengar kalimat-kalimat nakal Citra, membuat Seto menghujamkan batang penisnya ke dalam tubuh Citra keras-keras, hingga pada akhirnya tubuh istri Marwan itu menegang kaku dan berteriak lantang penuh kenikmatan
“Setoo.....Sepertinya aku mau keluar Seeett... aku sudah tak tahan... Pengen keluar...” Ucap Citra sambil memeluk pantat Seto yang sedang dalam gerakan memompa, menuntun supaya bergerak lebih cepat lagi.
“Kita keluar bareng ya mbak... Aku juga sudah nggak tahan....” Erang Seto.
“Iya sayang... Yuuukk... Aku udah bener-bener nggak tahan lagi.....” Jerit Citra sabil mulai kelojotan, “Aku... Aku tidak tahan lagi… Aaaa..Aahh… Aaaahh.. Aku keluar sayang... AKU KELUAARRR...NGENTOT KAMU SEETT..... “ Jerit Citra yang seolah lupa jika ia sedang berada di rumah orang lain. “ENAK BANGET SAYAAANG..... TERUS.. TERUUUSSS... GENJOT KONTOLMU SAYAAANNGGG....AAAAARRRRRGGGGHHHH...........”
Seketika itu, tubuh mungil Citra menggigil hebat tertusuk-tusuk batang penis Seto yang terkubur dalam-dalam divaginanya, merasakan klimaks terbesar yang pernah dia rasakan sepanjang umurnya. Kenikmatan yang tak pernah ia dapatkan dari banyak lelaki sebelum Seto.

CRET CRET CREETT...

Sambil mencengkeram punggung Seto keras-keras, tubuh Citra bergetar hebat. Kelojotan seperti orang yang tersengat arus listrik, ia menggelepar-gelepar dalam gelijang kenikmatan.

Bersamaan dengan itu, Seto pun menghujamkan batang penisnya dalam-dalam, mengobrak-abrik vagina mungil Citra hingga berbusa. Dan akhirnya, “MBAAAAKK....AKU JUGA KELUAAAR MBAK....”

CROOT CROOOT CROOOTT...

Keduanya insan yang sedang dilanda kepuasan birahi itupun menjerit, saling cium dan mengerang secara bersamaan. Bersama-sama, tubuh mereka menggelepar-gelepar, mengejang tanpa henti hingga akhirnya, terkapar kelelahan. Tubuh Seto ambruk, menimpa tubuh Citra. Sama-sama puas.

Cairan hangat seketika itu muncrat dari dalam vagina Citra, menghantarkan lendir-lendir licin yang langsung melumuri penis Seto.

“Oohh Setooo... Rasanya kontolmu benar-benar enak.... Luar biasa enak...” Puji Citra sambil menciumi pipi dan bibir selingkuhannya.
“Iya mbak... Sama.... Memekmu juga terasa wuueenak sekali... “ Balas Seto sambil mengecupi wajah wanita idamannya itu.
“Tahu nggak Set...?”
“Kenapa mbak...?”
“Sekarang kita resmi berselingkuh... Hihihi....”
“Hehehe... Citra Agustina....Istri nakalku...”

Dengan senyum mengembang, Citra meminta Seto terus mendekap dirinya. Dengan posisi masih telentang di bawah, Citra mengaitkan kakinya di pinggang Seto, berusaha menikmati setiap kedut otot vaginanya dengan penis Seto yang masih erat tertancap.

“Aku pengen lagi Set... Beri aku kenikmatan lagi... Entot aku lagi...” Pinta Citra lirih.
“Pasti mbak... Tak akan kusia-siakan tubuh indahmu malam ini...”
“Iiihhh... Kok cuman malam ini aja siiiihhh... “ Ucap Citra manja, “... Aku mau kamu entotin aku setiap malam...”.
“Lhooo.....??? Kalo ada Mas Marwan gimana....?”
“Bodo... Aku nggak mau tau... Pokoknya kamu harus ngentotin aku teruuss....”
“Hmmm... Harus apa mbak....?” Tanya Seto dengan nada menggoda.
“Harus ngentotin aku terus...” Ulang Citra dengan nada genit, “NGENTOTIN MEMEK AKU… KONTOLIN AKU… PEJUHIN AKU TERUS...”
“Hehehehe... Kok sekarang kamu nakal banget sih mbak.... Benar benar istri yang nakal....”

Malam semakin larut, dan suasana semakin dingin. Namun, walaupun begitu Citra dan Seto sama sekali tak merasakan hal itu. Mereka terus bercinta sepanjang malam. Ronde demi ronde mereka lalui dengan nikmat.

Benar benar buas. Malam yang buas..

"Wuih Wotooo.... Rasanya puas beeeeneeeer... " Ucap Seto dengan nada kecapekan.
"Ya iyalah... Dateng tengah malem, subuh gini baru kelar.... Bisa patah tuh kontol kalo dipake terus... Hahaha..." Balas Prawoto.
"Habisan, tuh cewe enak banget dipakenya Wot.. Nagihin..."
"Hahahaha... Iyadah.... Nih makan dulu, udah aku bikinin sarapan...."
"Ntar ajalah, aku mau tidur dulu.... Aku pinjem kamar Suwanti yaaa... Pengen istirahat bentaran..."
"Bener nih nggak mau..?"
"Kamu kasih aja tuh nasi ke Mbak Citra... Kali aja dia laper..."

***

“Mbak... Bangun dulu mbak...” Panggil Prawoto sambil mengetuk pintu kamar tidurnya pelan, “Aku bawain sarapan nih... "

TOKTOKTOK

Tak ada jawaban. Berusaha sopan, Prawoto kembali mengetuk pintu kamar tidurnya.

TOKTOKTOK

Tak ada jawaban.
"Mbak.... Ayo sarapan dulu..." Kata Prawoto lagi.

Tetap tak ada jawaban.

Karena penasaran, Prawoto akhirnya mengintip kedalam kamar, "Mbak Citra..." Panggilnya lagi, sambil mulai masuk dan mendekat kearah Citra tidur. Pelan-pelan, Prawoto melihat kearah sudut kamar tidurnya yang remang-remang. Melihat ke arah tempat Citra yang sedang tidur. Dan betapa terkejutnya tukang sate itu ketika ia mendapati sosok wanita yang sedang pulas tidur diatas kasurnya, telanjang tanpa tertutup selembar pakaianpun.

" Zzzzzzz...... Zzzzzzz......"

Nampaknya Citra sedang tertidur pulas. Dalam posisi terlentang, hembusan desah nafasnya terdengar begitu tenang, dadanya naik turun pelan, dan senyum tipisnya terlukis tipis di wajah imutnya.

"Zzzzzz.....zzzzzzzzz....."

"Mbak Citraaa..." Panggil Prawoto pelan. Berusaha membangunkan sosok yang tetap saja tak bergeming dari tidurnya.

Sejenak, Prawoto memandangi tubuh telanjang wanita itu dalam-dalam. Wajahnya yang putih bersih dengan rambut hitam panjang tergerai diatas bantal, tubuhnya yang indah dengan kulit yang mulus berkilauan, payudaranya yang besar mengantung manja diatas perut, dan vaginanya yang gundul licin tanpa sehelai rambut pun. Seketika membuat kelelakiannya mulai mengeras.

“Ayu tenan kowe mbak...” Kagum Prawoto dalam hati.
Walau sebenarnya ia sudah sering melihat banyak teman wanita yang diajak Seto kerumahnya, namun baru kali ini ia mengakui kehebatan teman masa kecilnya itu dalam memilih wanita.
“Tubuhmu benar-benar sempurna....” Ucap Prawoto lagi.


Dalam semburan cahaya matahari pagi yang mulai masuk melalui jendela kamarnya, Prawoto merekam dengan mata mesumnya, setiap jengkal keindahan tubuh Citra yang masih nyenyak terlelap. Termasuk kearah beberapa aurat tubuhnya yang dapat terlihat jelas olehnya. Hingga akhirnya ia mencoba membangunkan Citra lagi.

“Mbak... Yuk bangun mbak...” Bisik Prawoto lagi, “Ayo ini sarapannya udah aku siapin.... “ Ucap Prawoto sambil mencoba menggoyang pundak Citra.

"Zzzzzz... Ehhhhmmm.... Zzzzz..." Akhirnya, Citra merespon panggilannya barusan. Namun ternyata ia salah, karena tak lama kemudian, wanita cantik itu tertidur lagi.
“Wooo... Gebluk.... Kebo juga nih cewe kalo tidur...” batin Prawoto.

Karena melihat betapa pulasnya Citra ketika tidur, mendadak timbul niatan iseng di benak Prawoto. “Kalo tidur mulu... Ntar aku kontolin loh kamu mbak...” Ucapnya pelan setengah berbisik tepat ditelinga Citra.
“Zzzzzz….. Ehhhmmmm....” Sahut Citra lirih sambil menggeliat, ia merubah posisi tidurnya dari yang semula telentang, menjadi meringkuk kearah Prawoto berdiri. Namun anehnya, senyum di wajahnya terlihat semakin lebar. Cantik sekali.
"Wah... wah... wah.... Nantangin bener nih cewe..." Kata Prawoto gemas.

Merasa wanita cantik yang ada di hadapannya sama sekali tak merespon panggilannya dan lebih memilih tidur, buru-buru Prawoto menurunkan celana kolor beserta CDnya, sengaja membebaskan batang kelaminnya yang sudah sedari tadi keras meronta-ronta.

Tanpa menunggu waktu lama, lelaki kurus itu segera mengocok penisnya cepat-cepat. Membetot batang yang tumbuh diselangkangannya itu dengan kuat. Sambil terus menatapi tubuh indah Citra. Terus, terus dan terus. Kocokan tangannya bergerak semakin cepat, cepat, dan cepat. Menghantarkan gelombang birahi hingga ke seluruh syaraf selangkangannya.

"Enak bener tuh monyet sudah merasakan tubuh wanita ini...." Iri Prawoto kepada Seto sembari terus melihat tubuh telanjang Citra. Tangannya tetap tak henti-hentinya mengocok batang penisnya. "Pasti puas banget tuh kontol si kunyuk.."

Tiba-tiba, entah ide dari mana, Prawoto ingin menyentuh aurat tubuh Citra.
“Bantu aku ngecrot ya mbak....” Kata Prawoto lirih.

Dengan birahi yang sudah meninggi, tukang sate itu mulai meraba payudara Citra. Mencoba merasakan betapa lembutnya gundukan besar yang ada di tubuh Citra.

“Busyet dah... Pejuh si monyet itu masih belum kering... " Gerutu Prawoto begitu menyentuh payudara Citra yang masih basah oleh sperma Seto, buru-buru ia mengusapkan tangannya ke kain sprei, mencoba untuk membersihkan diri dari lendir kejantanan teman prianya itu.

"Busyet mbak... Badanmu kok penuh pejuh semua ya...?" Kata Prawoto begitu sadar dengan kondisi tubuh Citra yang berantakan. Setelah dilihat dengan seksama, rambut, muka, payudara, perut, hingga vagina Citra penuh dengan lelehan sperma Seto. Bahkan jika dilihat lebih dekat lagi vagina Citra masih mengeluarkan lendir kenikmatannya yang bercampur dengan sperma Seto. Mengalir turun hingga membentuk genangan-genangan di kasur Prawoto.

"Wah... wah... wah... Si kunyuk itu bener-bener kebangetan deh... Kalo gini caranya, nanti bakal aku suruh dia cuci sprei.." Gerutu Prawoto lagi.

Namun karena otak dan pikiran Prawoto sudah dilanda nafsu birahi yang sangat tinggi, akhirnya lelaki kurus itu mengesampingkan perasaan jijiknya. Perlahan, ia mulai meremasi lagi payudara Citra yang masih berlumuran sperma Seto itu dengan gemas. "Empuk bener tetekmu Mbak... Pantesan aja sampe dipejuhin semua kaya gini...." Kata Prawoto.

Melihat Citra yang tetap tak bergeming sedikitpun, membuat Prawoto semakin liar. Ia mulai meremasi kedua payudara Citra secara bergantian. “Ssshh... Mbak.. Tetekmu besar banget mbak... Bikin kontolku makin senut-senut...” ucap Prawoto sambil terus mengocok batang penisnya keras-keras sembari meremas, mengusap, hingga mencubit pelan.

“Eeeehhmmmm… “ Ucap Citra tiba-tiba sambil menggeliat dalam tidur.

Melihat wanita yang sedang tidur didepannya bereaksi karena ulah tangannya, Prawoto agak sedikit panik. Buru-buru ia melepas payudara Citra dan sedikit bergerak menjauh.

Ternyata Citra hanya merubah posisi tidurnya, karena tak beberapa lama kemudian ia kembalil tertidur lagi…“ Zzzzzz…. Zzzzzz….”

“Fiiiuuuh... Untung banget…” Kata Prawoto lirih. “Jangan-jangan Citra adalah wanita jika sudah tidur susah dibangunkan lagi….?” Sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di benak lelaki kurus itu. “Gimana ya kalo memang benar seperti itu…? Dientotin enak tuh...”

“Mbak Citra…? Mbak… Bangun mbak…” Panggil Prawoto sambil menggoyang-goyangkan tubuh telanjang Citra, mencoba mengetes kesadaran wanita cantik itu lagi. Namun tetap saja sia-sia, saudara Seto itu masih saja mendengkur halus.
“Mbak…. Kalo nggak bangun… Teteknya aku makan loh….” Ucap Prawoto lagi dengan nada cukup keras.
“ZZZzzzzzz…. Zzzzzz….”

“HAP… SLUURRPPP…”
Entah kenekatan darimana, Prawoto langsung mencaplok payudara Citra. Menjilati gundukan daging yang masih belepotan sperma itu sambil meremasi bergantian.

“Eehhmmm.... Zzzzz…. Zzzzz….” Desah Citra dalam tidurnya. Dadanya masih bergerak naik turun dengan tempo yang sangat pelan.

“Buussssyyeeettttt.... Bener-bener gebluk dah nih cewe kalo tidur..… Susah banget dibanguninnya….” Girang Prawoto
"Waaahh…Mbak.. Kalo kamu masih tidur gini... Bisa-bisa aku ikut ngentotin tubuh kamu loh..." Bisik Prawoto girang, "Mbaaak…. Bantu aku ngecrot ya….?” Tambahnya lagi, berharap bisikannya direspon oleh Citra.
“Eehhmmm.... Zzzzz ….” Jawab Citra dengan dengkuran pelannya.

Merasa Citra memberi izin, segera saja tangan Prawoto mulai merabai bagian tubuh Citra lainnya. Mulai dari mengusap rambut, wajah, perut, paha, hingga vaginanya. Sementara tangan satunya terus mengocoki batang penisnya.

“Kamu cantik banget mbak…” Bisik Prawoto lagi memuji, “Tetek kamu ini loh… Ngegemesin…Trus…. Memekmu ini… Walau masih becek kena pejuhnya si anak monyet… Tapi kayaknya sempit banget yaaa…?”

Sambil mengusapi celah kewanitaan Citra, Prawoto menggeser duduknya, pindah ke kaki tempat tidur. Dalam keremangan cahaya pagi, ia kembali mengagumi sosok wanita yang masih tertidur pulas itu. Sambil mengusap pelan tubuh Citra, Prawoto tak henti-hentinya berdecak kagum.

"Kakimu mulus banget mbak. Putih, licin, tak berbulu.... " Puji Prawoto sembari menciumi paha jenjang Citra. "Nggak heran... Dengan tubuh seperti ini, Seto ngentotin kamu sepanjang malam.... Ckckckck...... Beruntung banget tuh monyet.... "Gerutu Prawoto sembari terus mengusap dan membuka bibir vagina Citra, menyelipkan jemarinya pada vagina wanita cantik itu.

Langsung saja, tetesan sperma mengalir keluar dari vagina Citra. "Wuuuiiihhh... banyak juga pejuh si monyet itu masuk ke memekmu mbak...." Heran Prawoto sambil mulai mencucuki vagina Citra pelan.
"Memekmu pasti legit banget ya mbak....?" Tanya Prawoto dengan nada mesum, " Boleh nggak kalo memekmu aku jilat…?”

"Eeeehmmmm...." Citra kembali menggeliat, lalu meneruskan tidurnya. " Zzzzzzz... Zzzzzzz..."
"Hehehehe... Kalo tetep tidur gitu... Aku anggap boleh loh.."
" Zzzzzzz... Zzzzzzz..."

"Yessss... " Girang Prawoto. Segera saja ia memonyongkan mulutny, dan mulai mencucupi vagina Citra yang masih membasah itu. SLUUUURRP...CUP...CUP....SLUUURP...."
"Memekmu asin banget mbah.... Tapi gurih... " Kata Prawoto gemes.

Merasa ada yang mengusik tidurnya, tiba-tiba Citra mendesah, ".... Ehhhmmmm.... Kamu masih kurang ya Set...….Aku capek banget nih..... Pengen bobo..." Ucap Citra setengah sadar.

Dalam racauannya, Citra mengira jika lelaki yang sedari tadi sedang berusaha membangunkan dirinya adalah Seto.

"....Kalo kamu masih pengen ngentotin aku... Yaudah... Niih... Maenin aja sendiri..." Igau Citra sambil menggeliatkan badannya. Memiringkan tubuhnya kekiri, meringkuk menghadap tembok dengan pantat menungging kearah Prawoto.

"Seto...?" Tanya Prawoto dalam hati, "Apa mungkin mbak Citra berpikir jika aku adalah Seto....?"

GLEK

"Mbak Citra menyodorkan pantat bulatnya... Apa dia minta di sodimi ya...?" Girang Prawoto, " Mimpi apa aku semalam ya? Dapet cewe cakep yang mau bo'olnya disodok-sodok...."
"Ayo Sett... katanya mau nambah lagi... Nih... Buruan tusuk.." kata Citra dengan nada kecapekan."Kalo aku ketiduran, gausah bangunin dulu yaaa... aku ngantuk bangeet...".

Segera saja, Prawoto segera menjilati lubang anus Citra. Dengan semangat membara ia membasahi lubang anus itu sembari menyodok-sodokkan jemarinya.

"Seeet... Nakal ya kamuu... Sekarang maunya maen bo'ol aku yaaa...?"

SLUUURRRPPP... CUP CUP CUP...

Jilatan lidah dan tusukan jari Prawoto tak henti-hentinya mengekplorasi anus Citra. Membawa sebuah sensasi persetubuhan yang berbeda pada saudara Seto itu.

"Ssshhh... Udah ah.... jangan jilatin mulu..... Buruan kontolin aku Set..."

Tanpa menunggu waktu lama, Prawoto lalu membalikkan tubuh Citra yang semula meringkuk miring menjadi tengkurap, lalu ia posisikan pantat Citra agak sedikit menugging. Dengan penisnya yang sudah menegang keras, ia lalu mentowel-towel vagina, berusaha membasahi sekujur batang penisnya. Dan ketika dirasa cukup licin, Prawoto mulai mengusap-usap mulut anus Citra dengan penisnya.

"Uuuhhh... Sssshhh... Enak banget Seeet... Kamu suruh kontol besarmu buat mau ngegoda aku yaaa...? Hihihi.... Nakal banget sih kamuuuu.... "
"Hehehehe... Mbak Citra sepertinya tak tahu jika kontol ini bukan kontol Seto...." batin Prawoto girang.
"Enak banget Set kontolmu.. Bikin memekku jadi geli-geli nikmat.."
"Hehehe... Iya... Mbak Citra tak merasakan perbedaannya.....Secara kontolku khan ukurannya sama dengan kontol Seto..." Bangga Prawoto.
"Udah ah... buruan tusuk aku Set..." Kata Citra lirih sambil menyorongkan pantatnya tinggi-tinggi kebelakang.

Merasa lubang anus Citra sudah cukup basah, tanpa aba-aba, Prawoto segera mengambil ancang-ancang. Tangannya memegang pinggul semok Citra erat-erat, lalu setelah dirasa pas, tukang sate itu mendorongkan kepala penisnya ke mulut anus saudara Seto itu dengan kekuatan penuh.

HEEEEGGGGHH....
Erang Prawoto berusaha membenamkan bonggol kepala penisnya kelubang pembuangan Citra. Saking sempitnya lubang itu, batang penisnya sampai berkali-kali bengkok. "Susah bangeeetttt..."

Namun, Citra merasa jika persetubuhannya kali ini ada yang salah. Alih-alih merasakan enak pada lubang vaginanya, wanita cantik itu malah merasakan kepedihan pada lubang anusnya. Seketika, Citra langsung meronta sambil berusaha menjatuhkan dirinya kedepan. Mencoba melepaskan diri dari tusukan penis Prawoto, "AAAARRRGGGHHHH... SEEETT.... SALAH LOBANG...!..." Jerit Citra ITU BUKAN LUBANG MEMEK AKUUU....!"


CLEEEPPP

Tapi sia-sia. Walau tubuh Citra sudah menelungkup kedepan, kepala penis Prawoto tetap saja menempel di lubang anusnya. Sepertinya kepala penis itu sudah sedikit masuk kedalam liang pembuangannya. Karena walaupun Citra sudah berusaha bergerak maju guna menjauhkan anusnya dari penis Prawoto, tetap saja, ia ikut maju dan semakin membenamkan batang penisnya dalam-dalam ke liang dubur Citra.

"UUUHHH....SETOOO.. LUBANGNYA SALAAAAHHH... ! KONTOLMU MASUK KE BO'OLKU....!" Erang Citra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menahan sakit.

"LEPASIN SEEET... TARIK KONTOLMUUU...!" Jerit Citra., "BO'OLKU SAAAKIIITTTTT...!"

Sejenak Prawoto mendiamkan sodokan penisnya. Lelaki kurus yang masih berada diatas punggung Citra itu akhirnya mulai bersuara. "Sabar ya mbak... Bentar lagi juga enak kok... Tahan aja dikit...." Kata Prawoto sambil memijat pundak Citra. Berusaha membuat wanita yang ada dibawahnya itu untuk sedikit rileks, tak lupa ia juga menjilati lubang telinga Citra sambil mengecupi tengkuknya.

"Tahan sebentar ya sayang... Kita coba permainan baru ini...." Tambah Prawoto.
Tak menjawab, Citra hanya mengangguk pelan.

Merasa Citra sudah cukup tenang, Prawoto kembali menggoyangkan pinggulnya. Menusuki anus Citra dalam-dalam dengan penisnya yang besar.

Kembali, Citra menjerit dengan keras ketika Prawoto berhasil memasukkan sebagian penisnya ke dalam duburnya. Citra merasakan sakit yang amat sangat ketika lubang anusnya membesar diterobos oleh batang penis penjual sate yang berukuran raksasa itu.

"Jangan Seeettt.. Jangaaannn…. Aku mohon hentikan..." Erang Citra " Sakit bangeeet.... Aku ngga kuuuaaatttt….. Aaaaarrgghh…." Jerit Citra menjadi-jadi

Berbeda dengan apa yang sedang Citra rasakan, Prawoto justru merasakan nikmat yang amat sangat. Ia benar-benar menghayati rasa hangat akibat jepitan anus wanita cantik itu. "Mumpung mbak Citra masih mengira aku Seto, sekalian aja aku nikmatin tubuh indah ini... Hehehehe..."

"Tahan mbaaak... Tahaaannn...." Ucap Prawoto berusaha menenangkan.
Antara kecapekan atau mengantuk, entah apa yang ada dipikiran Citra saat itu. Walau sudah jelas-jelas suara yang ada diatas tubuhnya itu berbeda dengan suara Seto, namun tetap saja ia berpikiran jika orang itu adalah Seto.

"Ampun Seeet... Ampuuunnn.... " Suara Citra memelas, "Pake memek aku aja lagi Seeett... Jangan di bo'ol... Saaakiiittt....." Kata citra lagi sambil meremasi sprei dengan kedua tangannya.
"Oooohhh… Mbaaaakkk… Sabar mbaaak.... Bentar lagi pasti bakalan enak kok... Bo'olmu pasti bakalan enaaaakk..... Shhhhh...." Desah Prawoto yang kali ini mulai lebih berani berucap kata.


Perlahan, Prawoto mulai menggoyangkan pantat putih Citra kekanan kiri, naik turun hingga penisnya masuk seluruhnya. Citra yang tak berdaya itu hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, berusaha menahan sakit semampunya, tangannya terus-terusan mencengkeram sprei hingga jari-jarinya memutih.

"Pasti rasanya sangat sakit ya mbak.... Tapi enak....Hehehehe...." kekeh Prawoto dalam hati

Citra merasa dirinya benar-benar penuh, berulang kali tubuhnya merinding geli, seperti sensasi ketika ingin buang air besar. Disodok, ditarik, geli, merinding - Disodok, ditarik, geli, merinding.

Berulang kali, Citra merasakan sensasi itu. Hingga akhirnya, rasa sakit yang ia rasakan diawal persetubuhan itu berangsur hilang, berkurang, hingga sirna. Tergantikan oleh rasa gatal, geli sekaligus nikmat.

"Hoooossshhh..... Oooohhh….. Sssshhhh...." Kepala Citra menengadah keatas, bibirnya membulat dan membentuk huruf O. Ia mulai mendesah.
"Ssshh.... Oooohhh.... Udah yaa main bo'olnya Seeett.... Masukin memek aku aja...." Desahnya lirih.
Walaupun Citra terlihat sudah mulai menikmati sodominya, tapi entah kenapa wanita itu menolak untuk mengakuinya.

poker online terpercaya
 turnamen poker online
poker uang asli
"Masa bodoh..." erang Prawoto, "Aku lagi pengen ngentotin bo'olmu mbak..."
"Udah doong Seeet... Udahhh...."

Tak mendengar desahan Citra, Prawoto semakin mempercepat sodokan-sodokan di pantat bulat Citra sambil meremas-remas payudara wanita cantik yang sangat putih dan mulus itu. Cairan bening kekuningan pun mulai merembes keluar, menyelimuti penis Prawoto setiap kali ia tarik keluar.

Diiringi desah dan erangan suara Citra, lendir anus itu mulai mengalir turun, keluar bercampur dengan sperma Seto, mengalir terus ke pahanya yang putih mulus.

Dengan senyum kemenangan yang mengembang lebar, Prawoto sangat menikmati jepitan anus Citra yang sempit dan panas itu dipenisnya. Walau sebenarnya ada sedikit rasa sakit yang ia rasakan karena mungilnya liang anus Citra, tapi Prawoto sama sekali tak mempedulikannya. Terlebih, karena anus Citra yang mulai licin karena lendirnya, Prawoto pun menjadi semakin bersemangat terus menyodokkan pinggulnya keluar masuk dengan cepat.

"Bo'olmu enak sekali mbak.... Peret...." Ucap Prawoto yang begitu menikmati persetubuhan itu ketika otot-otot anus Citra seolah berdenyut memijati batang penisnya.

Setelah kurang lebih 15 menit Prawoto menyodomi Citra, ia merasakan jika gelombang orgasmenya akan segera tiba.

Tapi, bukan Prawoto namanya jika ia tak bisa mengajak teman tidurnya itu tak ikut merasakan nikmatnya orgasme. "Sekarang giliranmu untuk merasa enak mbak..." Kata Prawoto yang buru-buru mencabut batang penisnya lalu menusukkan dalam-dalam ke vagina Citra.

"AAAARRRRGGGHHH..... SEETOOOO... PELAN-PELAAAANNN....." Jerit Citra lagi.

Ia benar-benar tak menyangka jika Seto yang baru saja menyodominya, tiba-tiba memasukkan penis besarnya kedalam vaginanya. Rasa sakit yang berubah menjadi enak.

Seketika itu, Citra mendesah-desah keenakan. Dengan posisi doggy, ia mulai menggoyangkan pantat semoknya. Membalas setiap sodokan dan tusukan penis Prawoto dengan goyangan remes asyik vaginanya.
"Hooossshh.... Sempit banget mbaaakkk.... Nggak kalah dengan bo'olmu...." Erang Prawoto.
"Kontolmu juga berasa makin besar Seeett... beda banget dengan semaleemm..." balas Citra, "Terus entot aku Set.. Entot memek aku dengan kontol besarmu.... Sssshhhh...."

Citra buru-buru melebarkan kakinya dan menaikkan pantatnya, membuat batang penis Prawoto bisa masuk seluruhnya ke dalam lubang vaginanya.

"Wuooohhh.... memekmu bisa memijat ya mbak...? Enak banget ngurutnya.." Girang Prawoto sambil menikmati jepiran vagina Citra. Baru kali ini, tukang sate itu bisa merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa seumur hidupnya.
"Hihihihi... Biar kamu puas Set..."

Tak ingin merasa dikalahkan, Prawoto segera meraih payudara Citra yang bergelantungan dengan tangan kiri, dan merogoh klitorisnya dengan tangan kanan. Berulang kali ia meremasi payudara Citra kuat-kuat sambil terus-terusan menarik payudara Citra kebelakang, seolah payudara yang berukuran besar itu adalah tali kekang tubuh Citra. Tak lupa ia pun mulai mengobel klitoris Citra yang sudah menegang keras, menghantarkan setrum-setrum birahi bertegangan tinggi yang membuat seluruh syaraf kenikmatan tubuh saudara Seto itu terangsang penuh.

CLOK CLOK CLOK CLOK
Bunyi pompaan penis Prawoto pada vagina Citra.

"Oooohhhh... Kamu curaaaaannnggg Seeeetttt..... Curaaang bangeeet.. ooohhh..." Erang Citra yang tak bisa melakukan pembalasan apapun, yang bisa ia lakukan hanya meletakkan kepalanya dibantal dan menunggingkan pantatnya tinggi-tinggi.
"Hooohh... Aku sudah mau keluar Seeett... aku mau keluarrr...”

Tiba-tiba, Prawoto merasakan vagina Citra menyemburkan cairan hangat kepenisnya. Banyak sekali, hingga mengalir turun kepahanya.
"Hooooohhhh.... Seeeetoooo..... Enaaak baaangeeettttt...." Ucap Citra yang mendadak lemas dengan desahan nafas yang menderu-deru.

"Bentar Set... Tahan bentar... Memek aku ngilu..."

Tak mengindahkan permintaan Citra, Prawoto malah terus memompa.

"Curaaaannnggg... " Jerit Citra lagi yang tak diberi kesempatan untuk menikmati orgasmenya.

Dengan terpaksa ia semakin melebarkan kakinya, supaya Prawoto bisa segera orgasme.

CLOK CLOK CLOK CLOK
Lagi-lagi, suara persetubuhan mereka terdengar begitu nyaring. Membahana keseluruh penjuru kamar, menghajar vagina Citra yang benar-benar basah.

"Shhh... Uhh uhhh...Enak nggak Seeet...? Ssshhh.... " tanya Citra sambil mendesah-desah keenakan karena rasa ngilu vaginanya yang semakin menjadi-jadi.
"Pastinya mbak..."
"Terus sodok yang kenceng Set... aku mau keluar laagiii... Oooooouuuuhhhh...."
"Hah... keluar lagi mbak....?"
"Iya iya iyaaaa.... Aku keluaaar laaaagiiiii....."

Lagi-lagi, Prawoto merasakan denyutan hebat pada batang penisnya ketika vagina Citra berkontraksi karena orgasme. Hisapan, pijatan, dan urutan yang berulang kali diterima oleh penisnya. Mau tak mau membuat pertahanan tukang sate itu jebol juga. Ia merasakan penisnya sudah tak mampu lagi menahan rasa panas orgasme yang sudah menggumpal di ujung penisnya.


"Mbak... aku mau keluar...." Erang Prawoto yang kali ini berpegangan pada pinggang ramping Citra, dan menghantamkan pinggulnya keras-keras kedepan. Kearah vagina cita. "Aku mau sampe mbaaakkk..."

Dengan gerakan super cepat, Prawoto lalu mencabut batang penisnya dari anus Citra, lalu bergerak ke depan. Ke arah wajah Citra yang sedang merem melek keenakan. Merasakan sisa orgasmenya.

"Buka mulutmu mbakk... Aku mau ngentotin mulutmu..." Ucap Prawoto lantang.

Tanpa menyadari siapa yang memerintah, Citra segera membuka mulutnya lebar-lebar, dan membiarkan batang penis besar itu mulai memperkosa mulut dan tenggorokannya.

GAAG...GAAG...GAAG...GAAG...GAAG...GAAG...
Suara yang muncul setiap kali Prawoto menusukkan penisnya dalam-dalam.

Hingga akhirnya.

CROT CROOT CROOCOOOTTT..

Gumpalan hangat sperma langsung menyerbu rongga mulut Citra. Menghantarkan jutaan benih-benih lelaki masuk kedalam tenggorokannya.

"Huuuuooooohhhhh..... ENAAAAK BAAANGEEEET MBAAAAKKKKK...." Jerit Prawoto lantang sambil menghentak-hentakkan pinggulnya keras-keras kemulut Citra. "Ga heran kalo Seto bilang ngentotin cewe yang namanya Citra Agustina tuh enak banget.. Ternyata memang bener.... Hehehehe"

"Hihihi... Ngentotin aku enak yaaa...." Tawa Citra genit, "Looohhh....? Kenapa....? Seto bilang apa...?"
Mendadak, Citra tersadar. Buru-buru jemari lentiknya melepas penis besar yang sedang ia jilati. Kepalanya mendongak keatas, melihat sosok lelaki kurus yang baru saja menyetubuhinya.

Ternyata bukan tetangganya, melainkan....

"Prawoto....?"





casino online

Agen Bola Terpercaya


luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

0 komentar:

Posting Komentar